Bahagia dan sedih merupakan permainan pikiran.
Jika kita memaknai hidup kita dengan kebahagiaan maka kesedihan didepan mata akan terlihat sebagai anugerah.
Bukankah di balik hujan pasti akan ada matahari yang bersinar ?
Yakinlah... setelah kesedihan akan selalu ada kebahagiaan.
Cari Blog Ini
Selasa, 28 Desember 2010
Minggu, 07 November 2010
Dr Eko Teguh: Kandungan Gas Penyebab Tipe Letusan Merapi Berubah
Gunung Merapi memiliki kecenderungan membentuk kubah lava setelah bererupsi. Hal itu
bisa dilihat dari letusan Merapi apda 2006 yang meninggalkan kubah lava baru. Namun
pada letusan 2010 ini, terlihat perubahan tipe letusan. Vulkanolog Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta Dr Eko Teguh Paripurno, menjelaskan, kandungan gas dalam magma Merapi yang banyak membuat tipe letusannya menjadi berubah.
Berikut ini wawancara detikcom dengan penulis desertasi Karakter Lahar Gunung Api
Merapi sebagai Respons Perbedaan Jenis Erupsi Sejak Holosen ini, Jumat (5/11/2010).
Letusan Merapi kali ini bertipe vulkanian karena letusan berikutnya jauh lebih dahsyat?
Memang ada perubahan tipe letusan. Karena ada energi yang cukup maka bisa membersihkan kubah lava. Tidak hanya menyusupkan magma, tapi melontarkan. Ini karena energinya yang terakumulasi. Perubahan tipenya karena dinamika magma yang mengandung semakin banyak gas.
Tipe letusan Merapi memang dalam sejarahnya ada perubahan mengalirkan lava, membentuk kubah, erupsi letusan. Dan memang ada siklusnya. Jadi sekian tahun kubah, sekian tahun eksplosif, sekian tahun berubah lagi. Ini siklus gunung strato (tinggi dan mengerucut yang terdiri atas lava dan abu vulkanik yang mengeras).
Pada suatu gunung ada siklus pertumbuhan gunung api. Ada periode yang erupsinya banyak lava mengalir, bentuk kubah, dan sebagainya. Sifatnya bisa saja berubah-ubah, namun tidak berarti sangat cepat. Tipe strato, seperti kebanyakan gunung di Indonesia memang begitu.
Mengapa letusannya kali ini eksplosif vertikal?
Ini karena kekentalan lava dan energi yang terkandung. Tekanan gas yang sangat kuat membuat semburannya vertikal, semua ke atas. Seperti botol yang punya satu lubang ke atas. Tapi saya lihat ini ada bukaan di selatan. Jadi selain vertikal ada hembusan yang ke selatan.
Kegempaan yang terjadi, seperti tremor dan gempa vulkanik di sekitar Merapi merupakan tanda ada energi dari magma yang akan menuju kawah di puncaknya.
Tipe letusan gunung mengikuti sejarahnya. Adakah sejarah letusan Merapi yang katastrofik?
Memang pernah terjadi letusan besar, hanya saja bukan dalam sejarah modern. Letusan katrastofik itu artinya menghancurkan tubuhnya, seperti Gunung Krakatau. Nah, Merapi ini tidak pernah menghancurkan tubuhnya sendiri.
Yang pernah terjadi adalah erupsi sampai sebagian tubuhnya sliding, geser atau longsor. Merapi itu ada Merapi tua (60.000-8000 tahun lalu), pertengahan (8.000-2.000 tahun lalu) dan baru (2.000 tahun lalu-sekarang). Merapi yang kita kenal sekarang ini adalah Merapi baru.
Berdasar level Volcanic Explosivity Index (VEI), apakah letusan Merapi kali ini termasuk katastrofik?
Kalau materialnya jumlahnya 60 juta meter kubik. Artinya itu 0,06-0,1 km kubik, dan indeks erupsi level 4. Skala itu belum katastrofik. Kalau sudah mencapai level 6 atau 7 itu baru katastrofik. Merapi ini biasanya di VEI 2 atau 3. Saat ini sudah yang termasuk tingginya versi Merapi.
Gunung yang pernah VEI level 6 itu adalah Krakatau yang meletus pada 1883 dengan mengeluarkan 18 km kubik magma. Sedangkan yang VEI 7 adalah letusan Tambora pada 1815.
Gunung yang sering meletus akan memiliki skala VEI rendah dan sebaliknya gunung yang jarang meletus memiliki skala VEI tinggi.
Letusan besar kali ini karena bagian dari siklus letusan besar Merapi?
Sebenarnya Merapi itu memang cukup sering meletus. Saya rasa ini siklus 100 tahunan yang menyimpang atau lebih cepat 20 tahun. Karena pada tahun 1930 ada letusan Merapi yang besar.
Ada akumulasi gas di tubuh Merapi sehingga volume magma menjadi lebih besar. Karena itu energinya juga banyak.
Keasaman magma berbanding lurus dengan kekentalannya. Semakin asam magma, maka semakin kuat kemampuannya menahan gas. Semakin dalam waduk magma maka semakin besar erupsinya. Merapi ini masih untung karena kantong magmanya tidak terlalu dalam, kedalamannya sekitar 2,5 km dari puncak.
Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan material yang dikeluarkan Merapi mencapai hampir 100 juta meter kubik. Ini ancaman lahar dingin?
Material didistribusikan relatif merata. Kalau ada hujan, maka akan menjadi material lahar. Akan mengalir ke semua kali yang berhulu di Merapi, dan kalau banyak akan mengalir juga hingga Kali Code di Yogyakarta. Yang jelas, di mana ada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terisi hasil erupsi maka akan ada lahar. Endapan lahar akan memenuhi sungai.
bisa dilihat dari letusan Merapi apda 2006 yang meninggalkan kubah lava baru. Namun
pada letusan 2010 ini, terlihat perubahan tipe letusan. Vulkanolog Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta Dr Eko Teguh Paripurno, menjelaskan, kandungan gas dalam magma Merapi yang banyak membuat tipe letusannya menjadi berubah.
Berikut ini wawancara detikcom dengan penulis desertasi Karakter Lahar Gunung Api
Merapi sebagai Respons Perbedaan Jenis Erupsi Sejak Holosen ini, Jumat (5/11/2010).
Letusan Merapi kali ini bertipe vulkanian karena letusan berikutnya jauh lebih dahsyat?
Memang ada perubahan tipe letusan. Karena ada energi yang cukup maka bisa membersihkan kubah lava. Tidak hanya menyusupkan magma, tapi melontarkan. Ini karena energinya yang terakumulasi. Perubahan tipenya karena dinamika magma yang mengandung semakin banyak gas.
Tipe letusan Merapi memang dalam sejarahnya ada perubahan mengalirkan lava, membentuk kubah, erupsi letusan. Dan memang ada siklusnya. Jadi sekian tahun kubah, sekian tahun eksplosif, sekian tahun berubah lagi. Ini siklus gunung strato (tinggi dan mengerucut yang terdiri atas lava dan abu vulkanik yang mengeras).
Pada suatu gunung ada siklus pertumbuhan gunung api. Ada periode yang erupsinya banyak lava mengalir, bentuk kubah, dan sebagainya. Sifatnya bisa saja berubah-ubah, namun tidak berarti sangat cepat. Tipe strato, seperti kebanyakan gunung di Indonesia memang begitu.
Mengapa letusannya kali ini eksplosif vertikal?
Ini karena kekentalan lava dan energi yang terkandung. Tekanan gas yang sangat kuat membuat semburannya vertikal, semua ke atas. Seperti botol yang punya satu lubang ke atas. Tapi saya lihat ini ada bukaan di selatan. Jadi selain vertikal ada hembusan yang ke selatan.
Kegempaan yang terjadi, seperti tremor dan gempa vulkanik di sekitar Merapi merupakan tanda ada energi dari magma yang akan menuju kawah di puncaknya.
Tipe letusan gunung mengikuti sejarahnya. Adakah sejarah letusan Merapi yang katastrofik?
Memang pernah terjadi letusan besar, hanya saja bukan dalam sejarah modern. Letusan katrastofik itu artinya menghancurkan tubuhnya, seperti Gunung Krakatau. Nah, Merapi ini tidak pernah menghancurkan tubuhnya sendiri.
Yang pernah terjadi adalah erupsi sampai sebagian tubuhnya sliding, geser atau longsor. Merapi itu ada Merapi tua (60.000-8000 tahun lalu), pertengahan (8.000-2.000 tahun lalu) dan baru (2.000 tahun lalu-sekarang). Merapi yang kita kenal sekarang ini adalah Merapi baru.
Berdasar level Volcanic Explosivity Index (VEI), apakah letusan Merapi kali ini termasuk katastrofik?
Kalau materialnya jumlahnya 60 juta meter kubik. Artinya itu 0,06-0,1 km kubik, dan indeks erupsi level 4. Skala itu belum katastrofik. Kalau sudah mencapai level 6 atau 7 itu baru katastrofik. Merapi ini biasanya di VEI 2 atau 3. Saat ini sudah yang termasuk tingginya versi Merapi.
Gunung yang pernah VEI level 6 itu adalah Krakatau yang meletus pada 1883 dengan mengeluarkan 18 km kubik magma. Sedangkan yang VEI 7 adalah letusan Tambora pada 1815.
Gunung yang sering meletus akan memiliki skala VEI rendah dan sebaliknya gunung yang jarang meletus memiliki skala VEI tinggi.
Letusan besar kali ini karena bagian dari siklus letusan besar Merapi?
Sebenarnya Merapi itu memang cukup sering meletus. Saya rasa ini siklus 100 tahunan yang menyimpang atau lebih cepat 20 tahun. Karena pada tahun 1930 ada letusan Merapi yang besar.
Ada akumulasi gas di tubuh Merapi sehingga volume magma menjadi lebih besar. Karena itu energinya juga banyak.
Keasaman magma berbanding lurus dengan kekentalannya. Semakin asam magma, maka semakin kuat kemampuannya menahan gas. Semakin dalam waduk magma maka semakin besar erupsinya. Merapi ini masih untung karena kantong magmanya tidak terlalu dalam, kedalamannya sekitar 2,5 km dari puncak.
Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan material yang dikeluarkan Merapi mencapai hampir 100 juta meter kubik. Ini ancaman lahar dingin?
Material didistribusikan relatif merata. Kalau ada hujan, maka akan menjadi material lahar. Akan mengalir ke semua kali yang berhulu di Merapi, dan kalau banyak akan mengalir juga hingga Kali Code di Yogyakarta. Yang jelas, di mana ada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terisi hasil erupsi maka akan ada lahar. Endapan lahar akan memenuhi sungai.
Rabu, 20 Oktober 2010
BYE- BYE PLUTO
Sidang umum himpunan astronomi internasional (International Union /IAU) ke 26 di Praha Republik Ceko, yang berakhir 25 Agustus 2006, menghasilkan keputusan bersejarah dalam dunia astronomi dengan mengeluarkan Pluto dari daftar planet-planet di tata surya kita. Mulai sekarang, anggota tata surya terdiri atas delapan planet, yakni Merkuris, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus.
Keputusan mengeluarkan Pluto yang sudah menjdi keluarga Planet tata surya selama 76 tahun merupakan konsekuensi dtetapkannya definisi baru tentang planet. Resolusi 5A sidang umum IAU ke 26 berisi definisi baru itu. Dalam resolusinya tersebut dinyatakan sebuah benda langit bisa disebut planet apabila memenuhi 3 syarat, yakni mengorbit matahari, berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan bentuk bulat dan memiliki jalur orbit yang jelas dan “bersih” (tidak ada benda langit lain di orbit tersebut).
Dengan definisi baru tersebut, pluto tidak berhak menyandang nama planet karena mempengaruhi syarat yang ketiga. Orbit Pluto memotong orbit planet Neptunus sehingga dalam perjalanannya mengelilingi matahari, Pluto kadang berada lebih dekat dengan matahari dibandingkan Neptunus.
Jumat, 15 Oktober 2010
Prakiraan Cuaca Ekstrem hingga Februari 2011

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Ilustrasi.JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah menggelar rapat koordinasi tentang antisipasi terhadap iklim dan cuaca ekstrem yang diprediksi akan terjadi di Indonesia hingga Januari atau Februari 2011akibat dampak pemanasan global yang juga melanda dunia.
"Cuaca ekstrem diprediksi akan berlangsung hingga awal tahun depan. Karena itu, sasaran rakor adalah untuk mengatasi dampak iklim dan cuaca ekstrem yang belakangan ini sudah dirasakan oleh masyarakat luas," kata Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Jakarta, Senin (4/10/2010).
Seusai memimpin rapat koordinasi tentang antisipasi terhadap iklim dan cuaca ekstrem di Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan, Agung Laksono mengatakan, tujuan rakor juga untuk menentukan langkah-langkah lanjutan yang harus dilakukan oleh setiap kementerian atau lembaga terkait.
Menurut dia, kondisi Indonesia, selain memiliki keunggulan strategis, juga rentan terhadap bencana alam yang disebabkan fenomena cuaca dan iklim ekstrem serta gempa bumi.
Berdasarkan kajian panel antar-pemerintah mengenai iklim, aktivitas manusia merupakan penyebab meningkatnya suhu global yang memicu perubahan iklim yang ditandai dengan perubahan pola curah hujan, cuaca lebih ekstrem, naiknya paras air laut, bencana kekeringan, badai, banjir, gelombang panas, dan kebakaran hutan secara luas.
"Cuaca ekstrem dan perubahan pola curah hujan bisa berdampak pada gagal panen dan menyebabkan rawan pangan, gelombang tinggi yang membahayakan nelayan, banjir, dan lain sebagainya," katanya.
Menurut Agung Laksono, perubahan iklim dan cuaca ekstrem, selain memunculkan berbagai wabah penyakit dan gangguan kesehatan lainnya, juga akan berdampak pada para petani, yakni perubahan pola tanam dan gagal panen serta para nelayan yang tidak berani melaut akibat ombak tinggi. "Hal tersebut jika tidak segera diantisipasi akan menimbulkan kerawanan sosial," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah merasa perlu meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan masyarakat terhadap karakteristik dan sistem peringatan dini berbagai dampak yang diakibatkan oleh fenomena cuaca dan iklim ekstrem melalui upaya mitigasi, adaptasi, dan penguatan kelembagaan.
"Cuaca ekstrem diprediksi akan berlangsung hingga awal tahun depan. Karena itu, sasaran rakor adalah untuk mengatasi dampak iklim dan cuaca ekstrem yang belakangan ini sudah dirasakan oleh masyarakat luas," kata Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono di Jakarta, Senin (4/10/2010).
Seusai memimpin rapat koordinasi tentang antisipasi terhadap iklim dan cuaca ekstrem di Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan, Agung Laksono mengatakan, tujuan rakor juga untuk menentukan langkah-langkah lanjutan yang harus dilakukan oleh setiap kementerian atau lembaga terkait.
Menurut dia, kondisi Indonesia, selain memiliki keunggulan strategis, juga rentan terhadap bencana alam yang disebabkan fenomena cuaca dan iklim ekstrem serta gempa bumi.
Berdasarkan kajian panel antar-pemerintah mengenai iklim, aktivitas manusia merupakan penyebab meningkatnya suhu global yang memicu perubahan iklim yang ditandai dengan perubahan pola curah hujan, cuaca lebih ekstrem, naiknya paras air laut, bencana kekeringan, badai, banjir, gelombang panas, dan kebakaran hutan secara luas.
"Cuaca ekstrem dan perubahan pola curah hujan bisa berdampak pada gagal panen dan menyebabkan rawan pangan, gelombang tinggi yang membahayakan nelayan, banjir, dan lain sebagainya," katanya.
Menurut Agung Laksono, perubahan iklim dan cuaca ekstrem, selain memunculkan berbagai wabah penyakit dan gangguan kesehatan lainnya, juga akan berdampak pada para petani, yakni perubahan pola tanam dan gagal panen serta para nelayan yang tidak berani melaut akibat ombak tinggi. "Hal tersebut jika tidak segera diantisipasi akan menimbulkan kerawanan sosial," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah merasa perlu meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan masyarakat terhadap karakteristik dan sistem peringatan dini berbagai dampak yang diakibatkan oleh fenomena cuaca dan iklim ekstrem melalui upaya mitigasi, adaptasi, dan penguatan kelembagaan.
PVMBG Awasi Secara Intensif 20 Gunung Berapi di Indonesia
Kepala Bidang Pengamatan Gunung Api Pusat Vukanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Hendrasto menjelaskan bahwa saat ini ada 3 gunung berapi yang berstatus 'siaga' (level III) dan 17 gunung lainnya berstatus 'waspada' (level II).
Tiga gunung api yang bersifat 'siaga' tersebut adalah Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Karangetang di Sulawesi dan Gunung Ibu di Halmahera. Sementara itu untuk status gunung Sinabung turun dari status 'awas' (level IV) menjadi 'siaga' sejak 23 September 2010.
17 gunung api lainnya berstatus waspasa (level II) yakni Gunung Merapi (gunung ini naik status dari aktif normal menjadi 'waspada' mulai tanggal 20 September 2010 yang lalu), Egon, Talang, Batur, Kaba, Anak Krakatau, Semeru, Slamet, Sangeang Api, Rinjani, Rokatenda, Soputan, Dukono, Gamalama, Papandayan, Lokon, Kerinci dan Gunung Bromo.
Mengenai pelaporan aktivitas gunung api tersebut adalah secara real time on line, jelas Hendrasto saat ditanya mengenai bagaimana cara pelaporan aktivitas gunung api tersebut.
Tiga gunung api yang bersifat 'siaga' tersebut adalah Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Karangetang di Sulawesi dan Gunung Ibu di Halmahera. Sementara itu untuk status gunung Sinabung turun dari status 'awas' (level IV) menjadi 'siaga' sejak 23 September 2010.
17 gunung api lainnya berstatus waspasa (level II) yakni Gunung Merapi (gunung ini naik status dari aktif normal menjadi 'waspada' mulai tanggal 20 September 2010 yang lalu), Egon, Talang, Batur, Kaba, Anak Krakatau, Semeru, Slamet, Sangeang Api, Rinjani, Rokatenda, Soputan, Dukono, Gamalama, Papandayan, Lokon, Kerinci dan Gunung Bromo.
Mengenai pelaporan aktivitas gunung api tersebut adalah secara real time on line, jelas Hendrasto saat ditanya mengenai bagaimana cara pelaporan aktivitas gunung api tersebut.
Gunung Merapi Menuju Kritis
Tempinteratif, Senin, 11 Oktober 2010 | 16:22 WIB
“Pola erupsi yang terjadi saat ini berbeda dengan erupsi 2006, gempa vulkaniknya lebih kuat, yang sudah terjadi gempa vulkanik mencapai 3 skala richter,” kata Subandrio, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Senin (11/10).
Indikasi dari peningkatan aktivitas gunung Merapi dari hasil evaluasi mingguan, kata dia, jumlah gempa vulkanik pada minggu ini mencapai 22 kali. Jumlah itu lebih banyak dibandingkan gempa vulkanik pada minggu sebelumnya yang hanya 20 kali. Untuk gempa vulkanik dangkal sebanyak 39 kali, sedangkan pada minggu yang lalu mencapai 44 kali gempa dangkal.
Untuk gempa fase banyak (multiphase) minggu ini mencapai 544 kali atau lebih banyak dari minggu sebelumnya hanya 376 kali. Dan, jumlah guguran lava juga semakin intensif, yakni mencapai 117 kali. Padahal, pada minggu sebelumnya jumlah guguran lavanya hanya 35 kali.
Karena kondisi Gunung Merapi semakin menuju ke arah kritis, pihak BPPTK Yogyakarta mengintensifkan koordinasi dengan pemerintah kabupaten di sekitar Gunung Merapi, seperti Kabupaten Klaten, Sleman, Magelang dan Boyolali. Gunung Merapi berada di perbatasan empat kabupaten tersebut.
”Langkah-langkah antisipasi jika terjadi erupsi kami koordinasikan dengan pemerintah daerah setempat, termasuk jalur-jalur evakuasi yang mulai diperbaiki,” kata Subandrio.
Dihubungi terpisah, Triyono, Petugas Pengamatan Gunung Merapi di Pos Pengamanan Kaliurang, mengungkapkan aktivitas gunung itu terus meningkat. Setiap hari selalu ada gempa vulkanik, guguran lava dan gempa multiphase. Untuk guguran lava masih mengarah ke Kali Gendol yang berada di wilayah Kabupaten Sleman.
Ditambahkannya bahwa guguran lava baru bisa terlihat dari Pos Pengamatan Kaliurang Sleman. Untuk pos pengamatan di Magelang, Klaten maupun Boyolali belum terlihat guguran lava.
“Puncak Gunung Merapi sering tertutup awan, sehinga pengamatan langsung sering terganggu oleh awan,” kata Triono.
Pada Senin pagi sekitar pukul 09.00 WIB, sirine "Eraly Warning System" atau peringatan dini bahaya Gunung Merapi yang berada di Kabupaten Sleman berbunyi, diduga karena adanya kerusakan sistem. Bunyi sirine itu sempat membuat warga sekitar panik. Sirene tersebut bukan milik BPPTK, tetapi milik Pemerintah Kabupaten Sleman.
Menurut Heri Suprapto, Kepala Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, meskipun warga mendengar suara sirene namun warga tetap beraktivitas seperti biasa. Selain itu mereka juga bertanya apakah Gunung Merapi erupsi.
“Warga bertanya-tanya soal bunyi sirine, apakah Merapi sudah meletus, tetapi aktivitas seperti biasa masih dilakukan,” kata dia.
ARtI SEBUAH TITIPAN (By Rendra) - Disalin dr Pramono'Pakdhe'Dewo ditulis kembali oleh mbak sovie..
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah..
Sesungguhnya ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja...
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti, Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah..
Sesungguhnya ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja...
Langganan:
Postingan (Atom)

